MASA REMAJA NABI MUHAMMAD SAW
Nabi Muhammad SAW adalah seorang yatim piatu yang mempunyai akhlak terpuji. Beliau menjadi panutan dan terpercaya (Al-Amin) bagi masyarakat. Ajaran Islam yang dibawanya menjadi rahmat bagi semesta alam.
A. Perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Negeri Syam

Sekalipun hanya membantu pamannya, NAbi Muhammad SAW sangat bersemangat dan tekun. Ia belajar bagaimana cara berdagang dan melayani para pembeli dengan baik. Sikapnya yang sangat sopan dan ramah membuat masyarakat di sekitar negeri Syam tertarik. Ditambah lagi dengan para muka Nabi Muhammad SAW yang tampan, bersih dan rapihdalam berpakaian, maka semakin lengkaplah ketertarikan orang untuk membeli barang dagangan pamannya. Berdagang bersama pamannya ke nergeri Syam merupakan pengalaman pertama Nabi Muhammad SAW untuk berdagang. Selama ini dia hanya tahu menggembala kambing di gurun pasir. Tetapi karena sifat dak sikapnya yang baik sangat membantu pekerjaan barunya. Nabi Muhammad SAW tidak pernah berbohong kepada pamannya atau kepada pembelinya. Sehingga pamannya sangat percaya dan banyak mengajarkan cara - cara berdagang kepada Nabi Muhammad SAw. Dengan suka rela Nabi Muhammad SAW mempelajari sedikit demi sedikit bagaimana berdagang.
B. Cara Berdagang Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad tidak pernah membohongi pembeli. Jika dia melihat ada barang yang cacat, maka ia tunjukkan kecacatannya. Jika barang tersebut berharga murah, maka dia tidak akan menjual dengan harga yang mahal. Jika barang itu banyak, maka dia tidak pernah menyembunyikan atau menimbun barang tersebut agar mendapatkan keuntungan yang besar. Nabi Muhammad SAW akan jujur mengatakannya sehingga dia tidak menipu pembeli. Beliau juga memberitahukan harga jual sebagaimana telah ditentukan majikannya. Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW tidak melebihkan harga demi keuntungan pribadi. Tetapi, apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW ini tidaklah membuat perdagangannya merugi. Sebaliknya, beliau memperoleh keuntungan yang besar, sebab kejujuran beliau telah menarik rasa simpati para pembelianya. Mereka seolah - olah baru menjumpai seorang pedagang yang demikian jujur.
C. Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Pendeta Buhaira

Sewaktu perjalanan keliling mendekati jantung kota di Negeri Syam, tepatnya di suatu daerah yang bernama Busra, Abu Thalib dan Nabi Muhammad SAW bertemu dengan pendeta Nasrani bernama Buhaira. Tnda - tanda dan ciri - ciri tertentu yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW telah diamati oleh pendeta tersebut. Pendeta itu mengatakan kepada Abu Thalib bahwa keponakannya akan menjadi seorang nabi terakhir di dunia. Hal ini dieprkuat ketika Buhaira menyuruh Abu Thalib untuk membuka sebagian baju Nabi Muhammad SAW. Maka, terlihatlah tanda kenabian (khatamun nubuwah) yang melekat di antara kedua belikat badannya yang suci. Pendeta nasrani itu semakin meyakini bahwa anak muda yang dijumpainya itu adalah benar- benar akan menjadi nabi dikemudian hari.
Nabi Muhammad SAW dengan memiliki ciri - ciri kenabian itu adalah calon penerus para utusan Alah SWT sebelumnya. Akhirnya Buhaira meminta Abu Thalib untuk menjaga keponakannya dengan baik hingga dewasa supaya Nabi Muhammad SAW dapat mengemban tugas sebagai Nabi dengan baik.
Pendeta Buhaira juga meminta Abu Thalib untuk kembali ke Mekkah karena takut akan keselamatan Nabi Muhammad SAW. Khawatir kalau - kalau dalam perjalanan dapat gangguan dari orang yang dapat mencelakakan seorang calon nabi dan rasul terakhir itu. Tanda - tanda kenabian yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW tersebut diakui oleh Buhaira berasal dari kepercayaan yang terdapat dalam kitab para nabi sebelumnya. Buhaira menasehati Abu Thalib, "Kembalilah ke negerimu bersama keponakanmu dan jagalah Ia dari kejahatan kaum Yahudi, Sebab, demi Tuhan, jika mereka melihatnya dan mengetahui tentang dirinya, pasti mereka akan menganiayanya. Masa depan yang besar dibentangkan baginya, Maka segeralah kembali ke negerimu bersama anak muda ini".
Nasihat pendeta Buhaira didengarkan oleh Abu Thalib dengan baik. Sehingga hanya setelah beberapa saat berdagang, Abu Thalib kemudian memutuskan untuk kembali ke Mekkah. Tujuannya agar jangan sampai Nabi Muhammad SAWmendapat gangguan keselamatan dari orang - orang jahat. Abu Thalib merasa bertanggung jawab atas keselamatan Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan.
Abu Thalib merasa mempunyai kewajiban yang besar untuk menjaga Nabi Muhammad SAW agar kelak menjadi orang yang berguna bagi agama dan umat manusia. Setelah perisitiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW semakin disayangi oleh pamannya.
0 komentar
Posting Komentar